PENURUNAN
WAHYU
DINDA
MAULIDIA WAHYU ISNANI
NIM : B03218016
KELAS
B2
Dosen
Pengampu :
Prof. Dr. Moh. Ali aziz, M.Ag
Assisten
Dosen I :
Ati’ Nursyafa’ah, M.Kom.
Assisten
Dosen II :
Baiti Rahmawati S.Sos
BIMBINGAN
KONSELING ISLAM
UIN
SUNAN AMPEL SURABAYA
2018
KATA PENGANTAR
Pertama
penulis bersyukur kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Sholawat serta salam semoga senantiasa
tercurahkan kehadirat Nabi Muhammad SAW, beserta pengikutnya sampai akhir
zaman.
Suatu
kebahagiaan bagi penulis, telah dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul “Penurunan
Wahyu”, sebagai salah
satu persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata
kuliah studi Al-Quran Fakultas Dakwah dan Komunikasi di UIN Sunan Ampel Surabaya.
Penulis sampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada yang
terhormat :
1.
Prof. Dr. Moh. Ali aziz, M.Ag, selaku dosen
Matakuliah Studi Al-Qur’an.
2.
Ibu Ati’ Nursyafa’ah, M.Kom.
selaku Assisten Dosen I. Ibu Baiti Rahmawati S.Sos. selaku Assisten Dosen
II.
3.
Rekan-rekan mahasiswa Fakultas Dakwah dan
Komunikasi di UIN
Sunan Ampel Surabaya,
yang banyak memberikan saran serta kritikan yang membangun.
4.
Kedua Orang tua, dan saudara-saudara yang telah memberi dukungan dan doa kepada saya
selama ini.
Akhirnya penulis
menyadari akan keterbatasan dan kemampuan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu kritik dan saran dari pembaca
sangat penulis harapkan, dan semoga bermanfaat. Amin.
Penulis.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................... i
KATA PENGANTAR.............................................................. ii
DAFTAR ISI............................................................................ iv
PEMBAHASAN
A
Pengertian
Wahyu...................................................................... 1
B.
Kepastian
Adanya Wahyu.......................................................... 6
C. Cara-cara
turunnya Wahyu kepada Malaikat dan Nabi ............ 15
KESIMPULAN..........................................................................
30
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Wahyu
Kita sebagai
masyarakat muslim pasti tahu dengan yang namanya wahyu, terlebih lagi para
akademisi yang ada di dalam sebuah lembaga pendidikan islam, tampaknya nama
tersebut melekat erat di benak mereka.
Wahyu merupakan
mukjizat yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul. Wahyu diturunkan sesuai dengan
apa yang terjadi pada zaman yang akan datang.
Wahyu diturunkan
melalui Malaikat Jibril lalu Jibril menyampaikan kepada Nabi dan Rasul yang
dikehendakinya.
Istilah wahyu
tidak asing lagi bagi umat manusia khususnya umat islam. Berbagai pengertian
telah banyak dikemukakan oleh pakar agama. Tidak ketinggalan para pakar
filsafat juga sering mengusung istilah wahyu sebagai kebenaran mutlak.
Al-wahyu atau
wahyu adalah kata masdar (infinitif). Dan memiliki dua pengertian dasar, yaitu:
ter-sembunyi dan cepat. Menurut Nasrh
Hamid Abu Zaid asal makna wahyu menurut bahasa adalah pemberian informasi
secara rahasia.
Wahyu secara
istilah dapat bermakna komunikasi ilahi (kalam Allah) kepada para nabi termasuk
nabi Muhammad saw.
Wahyu menurut
para Ulama’ mempunyai dua arti, yaitu proses pemberian wahyu dan sesuatu yang
di turunkan tersebut.
Wahyu secara
etimologi (ilmu asal-usul kata) berarti petunjuk yang di berikan dengan cepat.
Jika dilihat secara jelas makna-makna wahyu tersebut dapat berarti:
1.
Ilham
yang sudah merupakan fitrah bagi manusia, sebagaimana wahyu yang di berikan
kepada ibu Nabi Musa as. Allah berfirman:
وَأَوۡحَيۡنَآ
إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَرۡضِعِيهِۖ فَإِذَا خِفۡتِ عَلَيۡهِ فَأَلۡقِيهِ
فِي ٱلۡيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحۡزَنِيٓۖ
إِنَّا رَآدُّوهُ إِلَيۡكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ
٧
Dan kami
ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir
terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir
dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan
mengembalikannya kepada-mu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. (QS.Al-Qasas [28]:7).
2.
Godaan
dan hiasan kejahatan yang dilakukan oleh setan pada diri manusia. Allah
berfirman :
وَلَا
تَأۡكُلُواْ مِمَّا لَمۡ يُذۡكَرِ ٱسۡمُ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ وَإِنَّهُۥ لَفِسۡقٞۗ
وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوۡلِيَآئِهِمۡ لِيُجَٰدِلُوكُمۡۖ
وَإِنۡ أَطَعۡتُمُوهُمۡ إِنَّكُمۡ
لَمُشۡرِكُونَ
١٢١
Dan janganlah
kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika
menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.
Sesun-gguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka
membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah
menjadi orang-orang yang musyrik (QS.Al An’am [6]: 121).
3.
Suatu
isyarat yang di berikan dengan cepat
melalui tanda dan kode, sebagaimana firman Allah SWT. Kepada Nabi
Zakaria :
فَخَرَجَ
عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنَ ٱلۡمِحۡرَابِ فَأَوۡحَىٰٓ إِلَيۡهِمۡ أَن سَبِّحُواْ
بُكۡرَةٗ وَعَشِيّٗا ١١
Maka ia keluar dari mihrab menuju
kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di
waktu pagi dan petang. (Qs.Maryam [19] : 11).
Wahyu yang
diturunkan Allah kepada Nabinya tentu mempunyai berbagai fungsi, menurut
Muhammad abduh sebagaimana yang dkutip oleh Nurkholis, wahyyu dapat dibagi
menjadi dua fungsi:
1.
Fungsi
pokok pertama timbul dari keyakinan bahwa manusia akan terus kekal sesudah
mati. Jadi wahyu memberi penjelasan tentang alam ghaib yang penuh dengan
rahasia.
2.
Fungsi
pokok kedua yaitu mempunyai kaitan erat dengan sifat dasar manusia sebagai
mahluk sosial, yaitu manusia harus hidup berkelompok.
B.
Kepastian adanya
Wahyu
Sebagai mana
yang telah di jelaskan pada pengertian wahyu yang dimana wahyu hanya diturunkan
kepada Rasululloh saw dan hamba tertentu.
Paling tidak ada
tiga aspek dalam Al-Qur’an yang dapat menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad
SAW. Sekaligus menjadi bukti bahwa seluruh informasi atau petunjuk yang
disampaikannya adalah benar-benar sumber dari Allah SWT.
Ketiga aspek
tersebut akan lebih meyakinkan lagi, bila diketahui bahwa Nabi Muhammad SAW
bukanlah seorang yang pandai membaca dan menulis. Ia juga hidup dan bermukim di
tengah-tengah masyarakat yang relatif telah mengenal peradaban.
Untuk meyakinkan
manusia, para Nabi dan Rasul diberi bukti-bukti yang pasti dan terjangkau.
Bukti-bukti tersebut merupakan hal-hal tertentu yang tidak mungkin dapat mereka
sebagai manusia biasa(bukan pilihan tuhan) lakukan. Bukti-bukti tersebut dalam
agama dinamai Mukjizat.
Salah satu
kepastian adanya wahyu adalah dengan adanya surat Al-Alaq yaitu Wahyu pertama
yang diterima Muhammad ketika
ia sedang ada di Gua Hira, Jibril memintanya membaca dan beliau mengatakan tak
tahu.
Malaikat mengulangi
permin-tannya (bacalah) tiga kali dan ia menjawab dalam keadaan serba bingung
dan ketakutan sebelum mengetahui kenabian yang tak terduga dan pertamkali
mendengar Al-Qur’an. (Al-A’zami, 2005: 50).
ٱقۡرَأۡ
بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ
مِنۡ عَلَقٍ ٢ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ
٣ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ
مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥
Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.
(Qs. Al-Alaq [96]:1)
ayat pertama yang
menjelaskan bahwa nabi Muhammad saw di suruh membaca Wahyu yang akan di
turunkan kepadanya, dengan menyebut nama Tuhan yaitu “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. (Qs. Al-Alaq [96]
: 2). Yang berarti Tuhan (Allah) adalah sang maha pencipta yang telah
menciptakan manusia.
Bacalah,
dan tuhanmulah yang maha Mulia”. (Qs.Al-Alaq [96] : 3)
Di teruskan kembali
dengan menyuruhnya membaca dengan nama Tuhan yang maha memuliakan. “Yang (mengajarkan) dengan pena”. (Qs.
Al-Alaq [96] : 4). “Dia mengajarkan
apa-apa yang tidak diketahuinya”. (Qs. Al-alaq [96] : 5)
Sedang nama tuhan yang
selalu akan diambil jadi sandaran hidup itu ialah allah yang maha mulia, maha
dermawan, maha kasih dan sayang kepada mahluknya. Dengan kemuliaan yang tinggi
di ajarkannya manusia dengan berbagai Ilmu.
Telah dikemukakan bahwa
permulaan turunnya wahyu itu yaitu pada tanggal 17 ramadhan tahun keempatpuluh
satu dari kelahiran Nabi SAW
Berfirman tuhan dalam Al-Qur’an.
۞وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا
غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ
لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ
وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ
عَبۡدِنَا يَوۡمَ ٱلۡفُرۡقَانِ يَوۡمَ ٱلۡتَقَى ٱلۡجَمۡعَانِۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ
كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ٤١
Ketahuilah,
sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka
sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim,
orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada
apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di
hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Qs.
Al-Anfal [08] : 41).
Tentang
diturunkannya wahyu Al-Qur’an dapat dilihat pada ayat 185 surah al-Baqarah,
شَهۡرُ
رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ
مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ
(Beberapa hari
yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan penjelasan
mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara hak dan yang batil).
Yang dimana pada
ayat tersebut dijelaskan bahwa Wahyu pertamakali di turunkan pada bulan
Ramadhan. Ayat ini pun menunjukkan bertemunya dua pasukan yakni kaum muslimin
dan orang-orang musyrik dalam perang badar.
Telah diberikan
isyarat kepada ketetapan tanggal dan bulan itu, sebab dua pasukan yaitu pasukan
muslimin dan pasukan musyrikin di Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun
2 Hijriyyah pada bulan yang sama ketika Nabi Muhammad SAW teapat berusian empat
puluh satu.
Kemudian
turunnya wahyu terhenti sementara, selama tiga tahun, sesudah itu mulailah
Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur.
Dan dapat
dilihat pula pada surah Al-Qadr pada ayat pertama,
إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي
لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ ١
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an)
pada malam qadar.
Malam
Qadar atau Malam Lailatul Qadar biasa disebut juga dengan malam Kemuliaan. Dimana
malam Kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan. Pada malam itu turun
Malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusannya
(Qs. Al-Qadr [97]: 3-4)
Ada pula cara
Allah mewahyukan kalamnya atau bagaimana Allah berkomunikasi dengan Rasul dan
hamba-hamba pilihannya, yaitu :
1.
Pewahyuan
dengan cara ilham atau tanpa perantara, misal: lewat mimpi yang benar dan
tepat.
2.
Ruhul kudus mewahyukan kepada kalbuku (sabda
Rasululloh SAW)
3.
Dengan
perantara Jibril, tidak terlihat oleh Nabi. Hanya saja beliau mendengar
kedatangannya, seperti suara dengungan lebah, atau bagai mendengar suara orang
memanggil, atau berupa nyanyian, atau berbentuk suara seperti lonceng yang
keras memekakkan telinga.
4.
Malaikat
Jibril menampakkan diri atau menyamar, antara lain sebagai lelaki tampan yang
menyampaikan sesuatu kepada nabi dengan menanyakan suatu hal seperti; apa itu Iman, Islam, dan Ihsan.
5.
Malaikat
Jibril memperlihatkan diri kepada Rasul dalam bentuk-nya yang asli (atas
permintaan beliau atau inisiatif sendiri, dengan izin-Nya) dengan sayapnya yang
berjumlah 6000 lembar.
6.
Allah
berfirman tanpa perantara, tidak pula
menampakkan diri melainkan dengan memper-dengarkan suara-titah-Nya dari balik
hijab (Kalbu).
Al Qur’an sejatinya telah nyata ditutunkan
di Lauhil mahfudz. Berdaarkan firman Allah :
بَلۡ
هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ٢١ فِي لَوۡحٖ
مَّحۡفُوظِۢ
٢٢
Bahkan yang
didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia. yang (tersimpan) dalam Lauh
Mahfuzh.
(Qs. Al-Buruj [85]: 21-22).
C.
Cara-cara turunnya Wahyu
kepada Malaikat dan Nabi
1.
Cara
Wahyu Allah turun kepada Malaikat
Menurut nash yang ter-dapat dalam
Al-Qur’an, Allah berfirman kepada malaikat :
وَإِذۡ
قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ
قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ
نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا
تَعۡلَمُونَ
٣٠
Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguh-nya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.(Qs.
Al-Baqoroh [2]: 30).
Terhadap wahyu yang di berikan
kepada-nya itu, berfirman Allah dalam Al-qur’an:
إِذۡ
يُوحِي رَبُّكَ إِلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ أَنِّي مَعَكُمۡ فَثَبِّتُواْ ٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْۚ سَأُلۡقِي فِي قُلُوبِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلرُّعۡبَ فَٱضۡرِبُواْ
فَوۡقَ ٱلۡأَعۡنَاقِ وَٱضۡرِبُواْ مِنۡهُمۡ كُلَّ بَنَانٖ ١٢
(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang
telah beriman". Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati
orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung
jari mereka. (Qs. Al-Anfal [8] : 12).
Nas-nas diatas
menunjukkan bahwa Allah berkata-kata dengan Malaikat tanpa perantara dengan
kata-kata yang dipahamkan.
Oleh
sebab itu para ulama berpendapat menegnai cara turunnya wahyu Allah yang berupa
Al-Qur’an kepada Jibril dengan beberapa pendapat :
a. Bahwah
Jibril menerimannya secara pendengaran dari Allah dengan lafatnya yang khusus.
b. Bahwa
Jibril menghafalnya dari Lauhul Mahfuz.
c. Bahwa
maknanya disampaikan kepada Jibril, sedang lafalnya adalah lafal Jibril, atau
Muhammad SAW.
Pendapat pertama itulah yang benar dan pendapat itu yang dijadikan pegangan
oleh Ahlusunnah wal Jama’ah.
Al-Qur’an adalah kalam Allah
dengan lafalnya, bukan kalam Jibril atau kalam Muhammad. Sedangkan pertanyaan
kedua itu tidak dapat dijadikan pegangan sebab adanya Al-Qur’an di lauhul mahfuz
itu seperti hal-hal gaib yang lain, termasuk Al-Qur’an.
Dan pendapat ketiga lebih sesuai
dengan hadis, sebab hadis itu wahyu dari Allah kepada Jibril, kemudian kepada
Muhammad SAW. Secara maknawi saja. Lalu hal tersebut diungkapkan dengan
ungkapan beliau sendiri.
2.
Cara
Wahyu Allah turun kepada Nabi
Nabi Muhammad SAW adalah
Nabi terakhir yang menerima wahyu (Al-Qur’an) sebagai petunjuk bagi manusia dan
sebagai penjelas mengenai petunjuk itu dan tidak ada keraguan di dalamnya bai
orang-orang beriman dan bertakwa yang senantiasa ingin mendapatkan petunjuk
dari Allah dalam hidupnya.
Nabi Muhammad SAW menerima
wahyu melalui Malaikat Jibril AS dalam wujud bacaan, lalu dimintakan kepada
para sahabat untuk menulisnya. Saat wahyu turun, Nabi Muhammad secara rutin
memanggil para penulis yang ditugaskan agar mencatat ayat itu.
Wujud tulisan ini dibacakan lagi dihadapan Nabi SAW.
Sebagai tugas penyampai
wahyu, Malaikat Jibril AS meng-hubungkan Firman Allah SWT dengan hati Nabi
Muhammad SAW,. Dalam hal ini, kalimat dan makna diterima Jibril AS dari Allah
SWT hingga sampai kepada Nabi Muhammad SAW sudah berbentuk kalimat dan makna
yang berbahasa arab.
Sebagai mana ditegaskan dalam firman Allah :
إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ قُرۡءَٰنًا عَرَبِيّٗا
لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ٢
Sesungguhnya
Kami menurun-kannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu
memahaminya. (Qs. Yusuf [12]
: 2).
Dalam
upayanya untuk menyampaikan wahyu Malaikat pada Nabi ada dua cara. Cara pertama: datang kepadanya suara
dencingan lonceng dan suara yang amat kuat yang mempengaruhi faktor-faktor
kesadaran, sehingga ia dengan segala kekuatannya siap menerima pengaruh itu.
Cara ini yang paling berat untuk Rasul. Apabila wahyu yang turun kepada
Rasulullah SAW dengan cara ini, maka ia mengumpulkan segala kekuatan
kesadarannya untuk menerima, menghafal dan memahaminya.
Cara
kedua: Jibril pernah juga menjelma dirinya
sebagai Seorang lelaki yang berpakaian putih-putih datang kepada Nabi SAW.
Menanyakan apa itu iman, islam dan ihsan, serta kapan kiamat terjadi dan
apa pula tandanya.
Adapula cara
Allah menurunkan wahyu kepada para Rasul tanpa melalui perantara, diantaranya
adalah melalui mimpi yang benar didalam tidur.
Aisyah juga
pernah meriwayatkan apa yang dialami oleh Rasulullah SAW berupa kepayahan, ia
berkata: “aku pernah melihat tatkala wahyu sedang turun kepadanya pada suatu
hari yang amat dingin. Lalu malaikat itu pergi, sedang keringat pun mengucur
dari dahi Rasulullah.” (Hadis Bukhori)
Keduanya itu
merupakan macam ketiga pembicaraan ilahi yang diisyaratkan di dalam ayat pada
surat Asy-Syuara [47]: 51 .
إِنَّا
نَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لَنَا رَبُّنَا خَطَٰيَٰنَآ أَن كُنَّآ أَوَّلَ
ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
sesungguhnya
kami amat menginginkan bahwa Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena
kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman (Qs.Asy-Syuara
[47]: 51).
Wahyu yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tidak sekaligus melainkan bertahap. Dengan
turunnya wahyu secara bertahap, tidak sukar bagi sahabat Nabi SAW untuk
menghafal dan mem-ahaminya.
Selain itu, Nabi SAW tidak akan pernah kuat menerima Al-Qur’an sekaligus,
karena Al-Qur’an Maha Agung. Allah berfirman :
لَوۡ
أَنزَلۡنَا هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ عَلَىٰ جَبَلٖ لَّرَأَيۡتَهُۥ خَٰشِعٗا
مُّتَصَدِّعٗا مِّنۡ خَشۡيَةِ
ٱللَّهِۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ
٢١
Kalau
sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan
melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan
perumpamaan - perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.
(Qs. Al-Hasyr [59]: 21).
Dari
ayat di atas dapat di tarik pemahaman bahwa Malaikat Jibril membawa wahyu dari
lauh al-Mahfudz ke bait al-Izzah yang ada di langit dunia dalam keadaan satu
paket, kemudian menurunkannya pada Nabi Muhammad secara berangsur-angsur.
Sebagian
ayat-ayat itu terputus-putus dari apa yang sebelumnya dan yang sesudahnya.
Masalah terhentinya itu begantung kepada Rasul. Disini terjadi perbedaan
pendapat mengenai jumlah ayat dan tempat pengembaliannya.
Dengan
memperhatikan perbedaan-perbedaan tersebut, maka surat Al-Qur’an itu dapat
dibagi atas tiga bagian, yaitu:
1. Dalam
pembagian itu tidak membedakan secara ijmal (global)dan bukan pula
tafshilian(terinci)
2. Dalam
pembagiannya itu secara tafshil, bukan secara ijmal.
3. Dalam
pembagian itu dibedakan secara tafshil dan ijmal.
Wahyu allah
tidak hanya di turunkan kepada Rasul Muhammad saw tetapi juga kepada hamba
tertentu, tidak hanya berupa manusia tapi juga pada lebah, misalnya (An-Nahl [16]
: 68).
وَأَوۡحَىٰ
رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحۡلِ أَنِ ٱتَّخِذِي مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتٗا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ
وَمِمَّا يَعۡرِشُونَ ٦٨
Dan
Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di
pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”.
Meski
demikian, hikmah penting dari turunnya Al-Qur’an secara bertahap telah
dinyatakan dalam firman Allah :
وَقَالَ
ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلۡقُرۡءَانُ جُمۡلَةٗ وَٰحِدَةٗۚ
كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَۖ وَرَتَّلۡنَٰهُ تَرۡتِيلٗا ٣٢
Berkatalah
orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya
sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan
Kami membaca-nya secara tartil (teratur dan benar).
(Qs. Al-Furqon [25]: 32).
Dalam hal penyampaian wahyu kepada
rasul, Allah pernah mencapakkan pengetahuan kedalam jiwa Nabi tanpa perantara
Malaikat wahyu jenis ini seperti mimpi Nabi Ibrahim diperintahkan untuk
menyembelih putranya Ismail.
فَبَشَّرۡنَٰهُ
بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ١٠١ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ
أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ
يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
١٠٢
Maka Kami beri
dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar
Maka tatkala
anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim
berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai
bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan
mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (Qs.as-saffat [37]: 101-102)
Diantara alasan yang menunjukkan
bahwa mimpi yang benar bagi para Nabi adalah wahyu yang wajib diikuti.
Allah juga memperdengarkan suara
dari balik tabir, seperti yang dialami Musa As, ketika menerima pengangkatan
kenabian dan juga yang di alami Muhammad SAW ketika Isra’ Mi’raj.
وَلَمَّا
جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِيٓ أَنظُرۡ
إِلَيۡكَۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِي وَلَٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ
مَكَانَهُۥ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِيۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ جَعَلَهُۥ
دَكّٗا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقٗاۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ تُبۡتُ
إِلَيۡكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ١٤٣
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat
dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman
(langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri
Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman:
"Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu,
maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat
melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu,
dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah
Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada
Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman" (Qs. Al-Al-araaf[07]: 143).
Kesimpulan
Wahyu adalah
perintah allah yang diturunkan kepada Nabi atau Rosul melalui perantara Malaikat
Jibril dalam keadaan cepat dan sangat rahasia. kadang juga allah menurunkan wahyunya
secara langsung tanpa perantara Malaikat Jibri. Begitupun dengan cara Allah
menurunkan wahyunya kepada Nabi atau Rosul, kadang Allah memerintahkan Malaikat
Jibril untuk menyamapaikan wahyu-nya kepada Nabi atau Rosul kadang juga Allah
langsung menyampaikan wahyunya kepada Nabi atau Rosul tersebut.
Banyak riwayat
yang menjelaskan bahwa wahyu yang diterima oleh Rasulullah SAW berupa ayat-ayat Al-Qur'an mayoritas diterima
melalui perantara malaikat-Nya. Dan sebagian yang lainnya dengan cara
penyampaian langsung dari Allah Swt kepada utusan-Nya tersebut. Metode
penyampaian wahyu secara langsung.
Ketika menerima secara langsung saat Rasulullah SAW mendengar perintah
dari Allah tanpa melalui perantara, memiliki pengaruh yang sangat besar bagi
beliau SAW. Rasul menerima Wahyu tidak sekaligus melainkan bertahap Nabi
SAW tidak akan pernah kuat menerima Al-Qur’an sekaligus, karena Al-Qur’an Maha
Agung.
Wahyu
pertamakali diturunkan pada bulan Ramadhan dan pada malam Lailatul Qadr yaitu
malam kemuliaan atau malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Bukti
adanya wahyu adalah dengan turunnya surat pertama dalam Al-Qur’an yaitu surat
Al-Alaq ayat 1-5.
Al-Qur’an adalah kalam Allah
dengan lafalnya, bukan kalam Jibril atau kalam Muhammad. Sedangkan pertanyaan
kedua itu tidak dapat dijadikan pegangan sebab adanya Al-Qur’an di lauhul
mahfuz itu seperti hal-hal gaib yang lain, termasuk Al-Qur’an.
DAFTAR PUSTAKA
.
Abyadi, Ibrahim.
1992. Sejarah Al-Qur’an. Jakarta:
Rineka Cipta.
Adnan amal,
Taufik. 2011.Rekrontruksi Sejarah
Al-Quran. Jakarta: Anick HT.
Al-A’zami. 2005. The History The Qur’anic Text. Jakarta:
GEMA INSANI.
Al-Qattan,
Manna’ Khalil. 2014. Studi Al-Qur’an.
Surabaya: Litera AntarNusa.
Arsyad, Natsir. 1996. Seputar Al-Qur’an Hadis & Ilmu. Bandung: AL BAYAN.
Aziz, Ali .
2018. Menhenal Tuntas Al-Qur’an.
Surayabaya: IMTIAZ.
Federpiel,
Howard M. 1994. Kajian Al-Qur’an di
Indonesia. Bandung: penerbit Mizan.
Hadiri SP,
Choiruddin. 2005. Klasifikasi Kandungan
Al-Qur’an II. Jakarta: Gema Insani.
Ibyari, Ibrahim.
1995. Pengenalan sejarah Al-Qur’an. Jakarta:
Cipta prakarsa sehati.
Musyafa’ah, Sauqiyah
dkk. 2013. STUDI AL-QUR’AN. Surabaya:
UIN SA Press.
Shihab, Quraish.
1996. Membumikan Al-Qur’an. Bandung:
penerbit Mizan.
Zuhdi, Achmad dkk.
2017. STUDI AL-QUR’AN. Surabaya: UIN
SA Press.