Rabu, 24 Oktober 2018

PENURUNAN WAHYU (STUDI AL-QUR'AN)


PENURUNAN WAHYU




DINDA MAULIDIA WAHYU ISNANI
NIM    : B03218016
KELAS B2

Dosen Pengampu :
Prof. Dr. Moh. Ali aziz, M.Ag
Assisten Dosen I :
Ati’ Nursyafa’ah, M.Kom.
Assisten Dosen II :
Baiti Rahmawati S.Sos

BIMBINGAN KONSELING ISLAM
UIN SUNAN AMPEL SURABAYA
2018

KATA PENGANTAR
Pertama  penulis bersyukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kehadirat Nabi Muhammad SAW, beserta pengikutnya sampai akhir zaman.
Suatu kebahagiaan bagi penulis, telah dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul “Penurunan Wahyu”, sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah studi Al-Quran Fakultas Dakwah dan Komunikasi di UIN Sunan Ampel Surabaya.
Penulis sampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada yang terhormat :
1.      Prof. Dr. Moh. Ali aziz, M.Ag, selaku dosen Matakuliah Studi Al-Qur’an.
2.      Ibu Ati’ Nursyafa’ah, M.Kom. selaku Assisten Dosen I. Ibu Baiti Rahmawati S.Sos. selaku Assisten Dosen II.
3.      Rekan-rekan mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi di UIN Sunan Ampel Surabaya, yang banyak memberikan saran serta kritikan yang membangun.
4.      Kedua Orang tua, dan saudara-saudara yang telah memberi dukungan dan doa kepada saya selama  ini.
Akhirnya penulis menyadari akan keterbatasan dan kemampuan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan, dan semoga bermanfaat. Amin.
                                                           
Penulis.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...............................................................   i
KATA PENGANTAR..............................................................   ii
DAFTAR ISI............................................................................   iv
PEMBAHASAN
    Pengertian Wahyu...................................................................... 1
B.     Kepastian Adanya Wahyu.......................................................... 6
C.   Cara-cara turunnya Wahyu kepada Malaikat dan Nabi ............ 15
KESIMPULAN.......................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Wahyu

Kita sebagai masyarakat muslim pasti tahu dengan yang namanya wahyu, terlebih lagi para akademisi yang ada di dalam sebuah lembaga pendidikan islam, tampaknya nama tersebut melekat erat di benak mereka.
Wahyu merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul. Wahyu diturunkan sesuai dengan apa yang terjadi pada zaman yang akan datang.
Wahyu diturunkan melalui Malaikat Jibril lalu Jibril menyampaikan kepada Nabi dan Rasul yang dikehendakinya.
Istilah wahyu tidak asing lagi bagi umat manusia khususnya umat islam. Berbagai pengertian telah banyak dikemukakan oleh pakar agama. Tidak ketinggalan para pakar filsafat juga sering mengusung istilah wahyu sebagai kebenaran mutlak.
Al-wahyu atau wahyu adalah kata masdar (infinitif). Dan memiliki dua pengertian dasar, yaitu: ter-sembunyi dan cepat.  Menurut Nasrh Hamid Abu Zaid asal makna wahyu menurut bahasa adalah pemberian informasi secara rahasia.[1]
Wahyu secara istilah dapat bermakna komunikasi ilahi (kalam Allah) kepada para nabi termasuk nabi Muhammad saw.[2]
Wahyu menurut para Ulama’ mempunyai dua arti, yaitu proses pemberian wahyu dan sesuatu yang di turunkan tersebut.
Wahyu secara etimologi (ilmu asal-usul kata) berarti petunjuk yang di berikan dengan cepat. Jika dilihat secara jelas makna-makna wahyu tersebut dapat berarti:
1.      Ilham yang sudah merupakan fitrah bagi manusia, sebagaimana wahyu yang di berikan kepada ibu Nabi  Musa as. Allah berfirman:
وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَرۡضِعِيهِۖ فَإِذَا خِفۡتِ عَلَيۡهِ فَأَلۡقِيهِ فِي ٱلۡيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحۡزَنِيٓۖ إِنَّا رَآدُّوهُ إِلَيۡكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ٧
Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepada-mu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. (QS.Al-Qasas [28]:7).

2.      Godaan dan hiasan kejahatan yang dilakukan oleh setan pada diri manusia. Allah berfirman :
وَلَا تَأۡكُلُواْ مِمَّا لَمۡ يُذۡكَرِ ٱسۡمُ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ وَإِنَّهُۥ لَفِسۡقٞۗ وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوۡلِيَآئِهِمۡ لِيُجَٰدِلُوكُمۡۖ وَإِنۡ أَطَعۡتُمُوهُمۡ إِنَّكُمۡ لَمُشۡرِكُونَ ١٢١
Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesun-gguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik (QS.Al An’am [6]: 121).
                                                     
3.      Suatu isyarat yang di berikan dengan cepat  melalui tanda dan kode, sebagaimana firman Allah SWT. Kepada Nabi Zakaria :

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنَ ٱلۡمِحۡرَابِ فَأَوۡحَىٰٓ إِلَيۡهِمۡ أَن سَبِّحُواْ بُكۡرَةٗ وَعَشِيّٗا ١١
Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang. (Qs.Maryam [19] : 11).

Wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabinya tentu mempunyai berbagai fungsi, menurut Muhammad abduh sebagaimana yang dkutip oleh Nurkholis, wahyyu dapat dibagi menjadi dua fungsi:
1.      Fungsi pokok pertama timbul dari keyakinan bahwa manusia akan terus kekal sesudah mati. Jadi wahyu memberi penjelasan tentang alam ghaib yang penuh dengan rahasia.
2.      Fungsi pokok kedua yaitu mempunyai kaitan erat dengan sifat dasar manusia sebagai mahluk sosial, yaitu manusia harus hidup berkelompok.

B.     Kepastian adanya Wahyu

Sebagai mana yang telah di jelaskan pada pengertian wahyu yang dimana wahyu hanya diturunkan kepada Rasululloh saw dan hamba tertentu.
Paling tidak ada tiga aspek dalam Al-Qur’an yang dapat menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad SAW. Sekaligus menjadi bukti bahwa seluruh informasi atau petunjuk yang disampaikannya adalah benar-benar sumber dari Allah SWT.[3]
Ketiga aspek tersebut akan lebih meyakinkan lagi, bila diketahui bahwa Nabi Muhammad SAW bukanlah seorang yang pandai membaca dan menulis. Ia juga hidup dan bermukim di tengah-tengah masyarakat yang relatif telah mengenal peradaban.
Untuk meyakinkan manusia, para Nabi dan Rasul diberi bukti-bukti yang pasti dan terjangkau. Bukti-bukti tersebut merupakan hal-hal tertentu yang tidak mungkin dapat mereka sebagai manusia biasa(bukan pilihan tuhan) lakukan. Bukti-bukti tersebut dalam agama dinamai Mukjizat.[4]
Salah satu kepastian adanya wahyu adalah dengan adanya surat Al-Alaq yaitu Wahyu pertama yang diterima Muhammad[5] ketika ia sedang ada di Gua Hira, Jibril memintanya membaca dan beliau mengatakan tak tahu.
Malaikat mengulangi permin-tannya (bacalah) tiga kali dan ia menjawab dalam keadaan serba bingung dan ketakutan sebelum mengetahui kenabian yang tak terduga dan pertamkali mendengar Al-Qur’an. (Al-A’zami, 2005: 50).
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١  خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢  ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣  ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. (Qs. Al-Alaq [96]:1)

ayat pertama yang menjelaskan bahwa nabi Muhammad saw di suruh membaca Wahyu yang akan di turunkan kepadanya, dengan menyebut nama Tuhan yaitu “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. (Qs. Al-Alaq [96] : 2). Yang berarti Tuhan (Allah) adalah sang maha pencipta yang telah menciptakan manusia.
Bacalah, dan tuhanmulah yang maha Mulia”. (Qs.Al-Alaq [96] : 3)
Di teruskan kembali dengan menyuruhnya membaca dengan nama Tuhan yang maha memuliakan. “Yang (mengajarkan) dengan pena”. (Qs. Al-Alaq [96] : 4). “Dia mengajarkan apa-apa yang tidak diketahuinya”. (Qs. Al-alaq [96] : 5)
Sedang nama tuhan yang selalu akan diambil jadi sandaran hidup itu ialah allah yang maha mulia, maha dermawan, maha kasih dan sayang kepada mahluknya. Dengan kemuliaan yang tinggi di ajarkannya manusia dengan berbagai Ilmu.
Telah dikemukakan bahwa permulaan turunnya wahyu itu yaitu pada tanggal 17 ramadhan tahun keempatpuluh satu dari kelahiran Nabi SAW[6] Berfirman tuhan dalam Al-Qur’an.
۞وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا يَوۡمَ ٱلۡفُرۡقَانِ يَوۡمَ ٱلۡتَقَى ٱلۡجَمۡعَانِۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ٤١
Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Qs. Al-Anfal [08] : 41).


Tentang diturunkannya wahyu Al-Qur’an dapat dilihat pada ayat 185 surah al-Baqarah,

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ
                                  
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara hak dan yang batil).

Yang dimana pada ayat tersebut dijelaskan bahwa Wahyu pertamakali di turunkan pada bulan Ramadhan. Ayat ini pun menunjukkan bertemunya dua pasukan yakni kaum muslimin dan orang-orang musyrik dalam perang badar.
Telah diberikan isyarat kepada ketetapan tanggal dan bulan itu, sebab dua pasukan yaitu pasukan muslimin dan pasukan musyrikin di Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyyah pada bulan yang sama ketika Nabi Muhammad SAW teapat berusian empat puluh satu.
Kemudian turunnya wahyu terhenti sementara, selama tiga tahun, sesudah itu mulailah Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur.
Dan dapat dilihat pula pada surah Al-Qadr pada ayat pertama,


إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ ١
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.
Malam Qadar atau Malam Lailatul Qadar biasa disebut juga dengan malam Kemuliaan. Dimana malam Kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan. Pada malam itu turun Malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusannya (Qs. Al-Qadr [97]: 3-4)

Ada pula cara Allah mewahyukan kalamnya atau bagaimana Allah berkomunikasi dengan Rasul dan hamba-hamba pilihannya, yaitu :
1.      Pewahyuan dengan cara ilham atau tanpa perantara, misal: lewat mimpi yang benar dan tepat.
2.       Ruhul kudus mewahyukan kepada kalbuku (sabda Rasululloh SAW)

3.      Dengan perantara Jibril, tidak terlihat oleh Nabi. Hanya saja beliau mendengar kedatangannya, seperti suara dengungan lebah, atau bagai mendengar suara orang memanggil, atau berupa nyanyian, atau berbentuk suara seperti lonceng yang keras memekakkan telinga.

4.      Malaikat Jibril menampakkan diri atau menyamar, antara lain sebagai lelaki tampan yang menyampaikan sesuatu kepada nabi dengan menanyakan suatu hal seperti; apa itu Iman, Islam, dan Ihsan.

5.      Malaikat Jibril memperlihatkan diri kepada Rasul dalam bentuk-nya yang asli (atas permintaan beliau atau inisiatif sendiri, dengan izin-Nya) dengan sayapnya yang berjumlah 6000 lembar.

6.      Allah berfirman tanpa perantara, tidak  pula menampakkan diri melainkan dengan memper-dengarkan suara-titah-Nya dari balik hijab (Kalbu).
                                 
Al Qur’an sejatinya telah nyata ditutunkan di Lauhil mahfudz. Berdaarkan firman Allah :


 بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ ٢١  فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۢ ٢٢
Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia. yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh. (Qs. Al-Buruj [85]: 21-22).

C.    Cara-cara turunnya Wahyu kepada Malaikat dan Nabi
1.      Cara Wahyu Allah turun kepada Malaikat
Menurut nash yang ter-dapat dalam Al-Qur’an, Allah berfirman kepada malaikat :

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٠

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguh-nya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.(Qs. Al-Baqoroh [2]: 30).
Terhadap wahyu yang di berikan kepada-nya itu, berfirman Allah dalam Al-qur’an:
إِذۡ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ أَنِّي مَعَكُمۡ فَثَبِّتُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ سَأُلۡقِي فِي قُلُوبِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلرُّعۡبَ فَٱضۡرِبُواْ فَوۡقَ ٱلۡأَعۡنَاقِ وَٱضۡرِبُواْ مِنۡهُمۡ كُلَّ بَنَانٖ ١٢
(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman". Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Qs. Al-Anfal [8] : 12).
Nas-nas diatas menunjukkan bahwa Allah berkata-kata dengan Malaikat tanpa perantara dengan kata-kata yang dipahamkan.
            Oleh sebab itu para ulama berpendapat menegnai cara turunnya wahyu Allah yang berupa Al-Qur’an kepada Jibril dengan beberapa pendapat :
a.       Bahwah Jibril menerimannya secara pendengaran dari Allah dengan lafatnya yang khusus.
b.      Bahwa Jibril menghafalnya dari Lauhul Mahfuz.
c.       Bahwa maknanya disampaikan kepada Jibril, sedang lafalnya adalah lafal Jibril, atau Muhammad SAW.
Pendapat pertama itulah yang  benar dan pendapat itu yang dijadikan pegangan oleh Ahlusunnah wal Jama’ah.
Al-Qur’an adalah kalam Allah dengan lafalnya, bukan kalam Jibril atau kalam Muhammad. Sedangkan pertanyaan kedua itu tidak dapat dijadikan pegangan sebab adanya Al-Qur’an di lauhul mahfuz itu seperti hal-hal gaib yang lain, termasuk Al-Qur’an.
Dan pendapat ketiga lebih sesuai dengan hadis, sebab hadis itu wahyu dari Allah kepada Jibril, kemudian kepada Muhammad SAW. Secara maknawi saja. Lalu hal tersebut diungkapkan dengan ungkapan beliau sendiri.
2.      Cara Wahyu Allah turun kepada Nabi
Nabi Muhammad SAW adalah Nabi terakhir yang menerima wahyu (Al-Qur’an) sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai penjelas mengenai petunjuk itu dan tidak ada keraguan di dalamnya bai orang-orang beriman dan bertakwa yang senantiasa ingin mendapatkan petunjuk dari Allah dalam hidupnya.
Nabi Muhammad SAW menerima wahyu melalui Malaikat Jibril AS dalam wujud bacaan, lalu dimintakan kepada para sahabat untuk menulisnya. Saat wahyu turun, Nabi Muhammad secara rutin memanggil para penulis yang ditugaskan agar mencatat ayat itu.[7] Wujud tulisan ini dibacakan lagi dihadapan Nabi SAW.[8]
Sebagai tugas penyampai wahyu, Malaikat Jibril AS meng-hubungkan Firman Allah SWT dengan hati Nabi Muhammad SAW,. Dalam hal ini, kalimat dan makna diterima Jibril AS dari Allah SWT hingga sampai kepada Nabi Muhammad SAW sudah berbentuk kalimat dan makna yang berbahasa arab.[9] Sebagai mana ditegaskan dalam firman Allah :
 إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ قُرۡءَٰنًا عَرَبِيّٗا لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ٢
Sesungguhnya Kami menurun-kannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (Qs. Yusuf [12] : 2).

Dalam upayanya untuk menyampaikan wahyu Malaikat pada Nabi ada dua cara. Cara pertama: datang kepadanya suara dencingan lonceng dan suara yang amat kuat yang mempengaruhi faktor-faktor kesadaran, sehingga ia dengan segala kekuatannya siap menerima pengaruh itu. Cara ini yang paling berat untuk Rasul. Apabila wahyu yang turun kepada Rasulullah SAW dengan cara ini, maka ia mengumpulkan segala kekuatan kesadarannya untuk menerima, menghafal dan memahaminya.
Cara kedua: Jibril pernah juga menjelma dirinya sebagai Seorang lelaki yang berpakaian putih-putih datang kepada Nabi SAW. Menanyakan apa itu iman, islam dan ihsan, serta kapan kiamat terjadi dan apa pula tandanya.[10]
Adapula cara Allah menurunkan wahyu kepada para Rasul tanpa melalui perantara, diantaranya adalah melalui mimpi yang benar didalam tidur.
Aisyah juga pernah meriwayatkan apa yang dialami oleh Rasulullah SAW berupa kepayahan, ia berkata: “aku pernah melihat tatkala wahyu sedang turun kepadanya pada suatu hari yang amat dingin. Lalu malaikat itu pergi, sedang keringat pun mengucur dari dahi Rasulullah.” (Hadis Bukhori)
Keduanya itu merupakan macam ketiga pembicaraan ilahi yang diisyaratkan di dalam ayat pada surat Asy-Syuara [47]: 51 .
إِنَّا نَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لَنَا رَبُّنَا خَطَٰيَٰنَآ أَن كُنَّآ أَوَّلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ    
sesungguhnya kami amat menginginkan bahwa Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami adalah orang-orang yang pertama-tama beriman (Qs.Asy-Syuara [47]: 51).
Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tidak sekaligus melainkan bertahap. Dengan turunnya wahyu secara bertahap, tidak sukar bagi sahabat Nabi SAW untuk menghafal dan mem-ahaminya.[11] Selain itu, Nabi SAW tidak akan pernah kuat menerima Al-Qur’an sekaligus, karena Al-Qur’an Maha Agung. Allah berfirman :
لَوۡ أَنزَلۡنَا هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ عَلَىٰ جَبَلٖ لَّرَأَيۡتَهُۥ خَٰشِعٗا مُّتَصَدِّعٗا مِّنۡ خَشۡيَةِ ٱللَّهِۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ٢١
Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan - perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (Qs. Al-Hasyr [59]: 21).
            Dari ayat di atas dapat di tarik pemahaman bahwa Malaikat Jibril membawa wahyu dari lauh al-Mahfudz ke bait al-Izzah yang ada di langit dunia dalam keadaan satu paket, kemudian menurunkannya pada Nabi Muhammad secara berangsur-angsur.
            Sebagian ayat-ayat itu terputus-putus dari apa yang sebelumnya dan yang sesudahnya. Masalah terhentinya itu begantung kepada Rasul. Disini terjadi perbedaan pendapat mengenai jumlah ayat dan tempat pengembaliannya.
            Dengan memperhatikan perbedaan-perbedaan tersebut, maka surat Al-Qur’an itu dapat dibagi atas tiga bagian, yaitu:
1.      Dalam pembagian itu tidak membedakan secara ijmal (global)dan bukan pula tafshilian(terinci)
2.      Dalam pembagiannya itu secara tafshil, bukan secara ijmal.
3.      Dalam pembagian itu dibedakan secara tafshil dan ijmal.

Wahyu allah tidak hanya di turunkan kepada Rasul Muhammad saw tetapi juga kepada hamba tertentu, tidak hanya berupa manusia tapi juga pada lebah, misalnya (An-Nahl [16] : 68).

وَأَوۡحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحۡلِ أَنِ ٱتَّخِذِي مِنَ ٱلۡجِبَالِ بُيُوتٗا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعۡرِشُونَ ٦٨
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”.

            Meski demikian, hikmah penting dari turunnya Al-Qur’an secara bertahap telah dinyatakan dalam firman Allah :
وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلۡقُرۡءَانُ جُمۡلَةٗ وَٰحِدَةٗۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَۖ وَرَتَّلۡنَٰهُ تَرۡتِيلٗا ٣٢
Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membaca-nya secara tartil (teratur dan benar). (Qs. Al-Furqon [25]: 32).
            Dalam hal penyampaian wahyu kepada rasul, Allah pernah mencapakkan pengetahuan kedalam jiwa Nabi tanpa perantara Malaikat wahyu jenis ini seperti mimpi Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih putranya Ismail.
 فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ١٠١ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٠٢
Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (Qs.as-saffat [37]: 101-102)
            Diantara alasan yang menunjukkan bahwa mimpi yang benar bagi para Nabi adalah wahyu yang wajib diikuti.
            Allah juga memperdengarkan suara dari balik tabir, seperti yang dialami Musa As, ketika menerima pengangkatan kenabian dan juga yang di alami Muhammad SAW ketika Isra’ Mi’raj.

وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِيٓ أَنظُرۡ إِلَيۡكَۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِي وَلَٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِيۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكّٗا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقٗاۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ١٤٣
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman"  (Qs. Al-Al-araaf[07]: 143).

Kesimpulan

Wahyu adalah perintah allah yang diturunkan kepada Nabi atau Rosul melalui perantara Malaikat Jibril dalam keadaan cepat dan sangat rahasia. kadang juga allah menurunkan wahyunya secara langsung tanpa perantara Malaikat Jibri. Begitupun dengan cara Allah menurunkan wahyunya kepada Nabi atau Rosul, kadang Allah memerintahkan Malaikat Jibril untuk menyamapaikan wahyu-nya kepada Nabi atau Rosul kadang juga Allah langsung menyampaikan wahyunya kepada Nabi atau Rosul tersebut.
Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa wahyu yang diterima oleh Rasulullah SAW  berupa ayat-ayat Al-Qur'an mayoritas diterima melalui perantara malaikat-Nya. Dan sebagian yang lainnya dengan cara penyampaian langsung dari Allah Swt kepada utusan-Nya tersebut. Metode penyampaian wahyu secara langsung.  Ketika menerima secara langsung saat Rasulullah SAW mendengar perintah dari Allah tanpa melalui perantara, memiliki pengaruh yang sangat besar bagi beliau SAW. Rasul menerima Wahyu tidak sekaligus melainkan bertahap Nabi SAW tidak akan pernah kuat menerima Al-Qur’an sekaligus, karena Al-Qur’an Maha Agung.
Wahyu pertamakali diturunkan pada bulan Ramadhan dan pada malam Lailatul Qadr yaitu malam kemuliaan atau malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Bukti adanya wahyu adalah dengan turunnya surat pertama dalam Al-Qur’an yaitu surat Al-Alaq ayat 1-5.
Al-Qur’an adalah kalam Allah dengan lafalnya, bukan kalam Jibril atau kalam Muhammad. Sedangkan pertanyaan kedua itu tidak dapat dijadikan pegangan sebab adanya Al-Qur’an di lauhul mahfuz itu seperti hal-hal gaib yang lain, termasuk Al-Qur’an.


DAFTAR PUSTAKA

.
Abyadi, Ibrahim. 1992. Sejarah Al-Qur’an. Jakarta: Rineka Cipta.
Adnan amal, Taufik. 2011.Rekrontruksi Sejarah Al-Quran. Jakarta: Anick HT.
Al-A’zami. 2005. The History The Qur’anic Text. Jakarta: GEMA INSANI.
Al-Qattan, Manna’ Khalil. 2014. Studi Al-Qur’an. Surabaya: Litera AntarNusa.
Arsyad, Natsir. 1996. Seputar Al-Qur’an Hadis & Ilmu. Bandung: AL BAYAN.
Aziz, Ali . 2018. Menhenal Tuntas Al-Qur’an. Surayabaya: IMTIAZ.
Federpiel, Howard M. 1994. Kajian Al-Qur’an di Indonesia. Bandung: penerbit Mizan.
Hadiri SP, Choiruddin. 2005. Klasifikasi Kandungan Al-Qur’an II. Jakarta: Gema Insani.
Ibyari, Ibrahim. 1995. Pengenalan sejarah Al-Qur’an. Jakarta: Cipta prakarsa sehati.
Musyafa’ah, Sauqiyah dkk. 2013. STUDI AL-QUR’AN. Surabaya: UIN SA Press.
Shihab, Quraish. 1996. Membumikan Al-Qur’an. Bandung: penerbit Mizan.
Zuhdi, Achmad dkk. 2017. STUDI AL-QUR’AN. Surabaya: UIN SA Press.








[1] MKD UIN sunan ampel Surabaya, Studi Al-Qur’an(Surabaya: UINSA press, 2013), hlm. 5.
[2] MKD UIN sunan ampel Surabaya, Studi Al-Qur’an(Surabaya: UINSA press, 2013), hlm. 9.
[3] Quraish Shihab, membumikan Al-Qur’an(Bandung: penerbit Mizan, 1996), hlm. 29.
[4] Quraish shihab, Membumikan Al-Qur’an(Bandung: penerbit Mizan, 1996),hlm. 28.
[5] Taufik adnan, Rekonstruksi sejarah Al-Qur’an(Jakarta: Gema Insani, 2011), hlm. 146.
[6] Ibrahim Abyadi, Sejarah Al-Qur’an(Jakarta: Rineka cipta, 1992), hlm. 35.
[7] Al A’zami, The history the Qur’anic(Jakarta: GEMA INSANI, 2005), hlm. 35.
[8] Ali aziz, Mengenal tuntas Al-Qur’an, 2018), hlm. 3.
[9] Ali aziz, Mengenal tuntas Al-Qur’an, 2018), hlm. 25.

[10] Natsir arsyad, Seputar Al-Qur’an hadist dan ilmu(Bandung: AL BAYAN, 1996), hlm. 25-26.
[11] Ali aziz, Mengenal tuntas Al-Qur’an, 2018), hlm. 25.


STUDY AL-QUR'AN

Assalamualaikum. Wr. Wb Hai sobat ayo ikuti metode pembelajaran Al-Qur’an proses dimana seorang berubah perilakunya akibat pen...